Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2008

Mall di Bandung

Bandung itu identik dengan :

Kota fashion, kota dengan segudang makanan yang enak dan murah, kota outlet, kota yang punya view “menjual”, dan kota musik.

So, sebagai rasa cintaku dengan kota kelahiranku ini, aku kasi beberapa list buat kamu-kamu yang doyan belanja di Mall..

Daftar Mall oke buat belanja, window shopping & oke buat nongkrong sambil ngupi-ngupi :

1. Dago Plaza (JL. Ir. H. Djuanda No 61 – 63 Bandung)

Dago plaza ini rame banget dikunjungi sama anak-anak muda bandung, letaknya  strategis di kawasan “sibuk” dago. Bersebrangan dengan The Kios K, Hanamasa, deket dengan KFC dan bersebelahan dengan Apotek Kimia Farma. KOnsepnya emang diciptakan open yang bener2 anak muda banget !

Fasilitas : Restoran (Momiji Resto, Longhorn, Winner Bratwurts dll), Cafe (Oh, Lala cafe (bisa sambil ber-shisa ria), Expresso, klenger dll), Shopping centre, karoke (Nav-nav), Internet Hotspot, Photo Studio (Malibu), Salon & Spa, DVD & Magazine.

2. Bandung Indah Plaza (BIP) (Jl. Merdeka no 56)

Siapa sih yang engga kenal sama BIP ? kayanya BIP ini udh jadi ikonnya mall di bandung deh…Mall ini paling pertama dan paling lama berdiri, fasilitasnya lengkap dan terletak di pusat kotanya bandung.

Fasilitas : Restoran (ada food court di lantai atas (deket bioskop) ama di dpinggir yogya, trus ada juga resto yang dipinggir mall ama di dalemnya), Fast Food (Mc’D, A&W), Shopping centre (Yogya ama Matahari), Outlet2 baju (ada distro kaya skaters, all about surf, sport station, cammomile, shark dll.), shoes shop (Giovannni, Zarks, dll), games centre (time zone dll..), Bioskop (21 cinemas), saloon (Jhony Andrean, Yopie saloon), Photo studio (Yonas photo).

3. Paris Van Java (Jl. Sukajadi 137-139)

(PVJ) adalah salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Bandung saat ini. Salah satu daya tarik tempat ini adalah nuansa open air yang alami dan waktu bukanya yang sampai tengah malam (terutama untuk cafe/restoran). PVJ dirancang dengan konsep Eropa dengan open air dengan burung-burung merpati hias yang beterbangan bebas, toilet yang dibuat berdampingan dengan kolam ikan, interior penyewa yang menarik, dan penyelenggaraan acara-acara yang variatif juga turut menyemarakkan mall ini.

Fasilitas : restoran konsep (di depan banyak banget kaya casa manja, katja piring dll), fast food (KFC, popeyes) , cafe (Black canyon, MU cafe dll) , toko fesyen (dengan merek oke banget !! kaya channel, Louis Vitton, CK,mango dll), toko buku (gramedia) , toko kebutuhan rumah tangga (carefore, papaya), bioskop (Blitz mega plex), karaoke (Inul vista, Lemonade ), photo studio (Yonas Photo, Club (Mansion)

4.Cihampelas Walk/Ciwalk (Jl Cihampelas 160)

Namanya aja Ciwalk , tentu aja dong mall ini selain menyuguhkan shopping area juga menyediakan view yang oke buat jalan-jalan dong. Mall ini memilik area kanan dengan nama “Young Street” yang terdiri dari toko, gerai dan food station yang berkonsep anak muda, dan area kiri dengan nama “Broadway” yang lebih dewasa 🙂 . Cihampelas memang di design untuk membuat nyaman pedestrian walking, di mana ada pohon2 besar, lengkap dengan lampu-lampu yang menjuntai.

Fasilitas : Resto (Gokana, Shinmen, Honey Moon, Blind resto dll), Cafe (Oh, Lala !, J.Co dll), fashion store (Harajuku, Shibuya, dll), tempat rumah tangga (yogya), bioskop (21 cinemas, XXI theater, club (Score !, Embassy)

5. Istana Plaza (Jl. Pasirkaliki 121-123)

Mall ini berkonsep modern yah hampir setipe dengan mall-mall yang lain, yang menarik dari mall ini adalah ada tempat ber-ice skatingnya. Istana Plaza menyediakan mall keluarga hanya dalam sekali perhentian untuk para pelanggan kelas menengah sampai kelas atas. Mall Istana Plaza selalu mencapai peningkatan penjualan, peningkatan bauran penyewa, dan kegiatan-kegiatan yang bersifat promosi untuk melayani para pelanggan dan penyewa terlebih baik lagi setiap tahunnya.

Fasilitas : Ice skating, fashion strore (orange, dll), toko penyedia rumah tangga (giant), food court (di lantai atas deketan sama ice skating), book store (gramedia).

6. Bandung Super Mall/BSM (Jl. Jendral Gatot Subroto No. 289)

Mall ini emang rada-rada jauh dari pusat kota (salah tempat ga sih ?) cuma oke lah kalo buat orang-oranng yang suka branded, di sini juga tempatnya oke. Cuma yang ga ngenakin itu di tempat paarkiran bsm itu ada rumah di tengah-tengah nya ( ga oyeeh deh), bsm juga suka dipake buat event2 penting (band gue waktu sma pernah maen di sini 🙂 )

Fasilitas : resto (food court), shopping station, bowling area, billiard, bioskop (21 cinemas), parkirnya lumayan gedeee..

intinya ada 6 mall besar yang bisa u visit ! tapi masih ada mall yang lain ko kaya Hyper Paskal Square, btw selamat belanja !!!


Read Full Post »

Bandung in History

Foto Hotel Savoy Homman Jaman Dahulu (gila tua banget ini hotel yah??)

Mengenai asal-usul nama “Bandung”, dikemukakan berbagai pendapat. Sebagian mengatakan bahwa, kata “Bandung” dalam bahasa Sunda, identik dengan kata “banding” dalam Bahasa Indonesia, berarti berdampingan. Ngabanding (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1994) dan Kamus Sunda-Indonesia terbitan Pustaka Setia (1996), bahwa kata bandung berarti berpasangan dan berarti pula berdampingan.

Pendapat lain mengatakan, bahwa kata “bandung” mengandung arti besar atau luas. Kata itu berasal dari kata bandeng. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng berarti genangan air yang luas dan tampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Diduga kata bandeng itu kemudian berubah bunyi menjadi Bandung. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa kata Bandung berasal dari kata bendung.

Pendapat-pendapat tentang asal dan arti kata Bandung, rupanya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen (± 6000 tahun yang lalu).

Akibatnya, daerah antara Padalarang sampai Cicalengka (± 30 kilometer) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu sampai Soreang (± 50 kilometer) terendam menjadi sebuah danau besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Danau Bandung atau Danau Bandung Purba. Berdasarkan hasil penelitian geologi, air Danau Bandung diperkirakan mulai surut pada masa neolitikum (± 8000 – 7000 sebelum Masehi). Proses surutnya air danau itu berlangsung secara bertahap dalam waktu berabad-abad.

Secara historis, kata atau nama Bandung mulai dikenal sejak di daerah bekas danau tersebut berdiri pemerintah Kabupaten bandung (sekitar decade ketiga abad ke-17). Dengan demikian, sebutan Danau Bandung terhadap danau besar itu pun terjadi setelah berdirinya Kabupaten Bandung.

Berdirinya Kabupaten Bandung

Sebelum Kabupaten Bandung berdiri, daerah Bandung dikenal dengan sebutan “Tatar Ukur”. Menurut naskah Sadjarah Bandung, sebelum Kabupaten Bandung berdiri, Tatar Ukur adalah termasuk daerah Kerajaan Timbanganten dengan ibukota Tegalluar. Kerajaan itu berada dibawah dominasi Kerajaan Sunda-Pajajaran. Sejak pertengahan abad ke-15, Kerajaan Timbanganten diperintah secara turun temurun oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur. Pada masa pemerintahan Dipati Ukur, Tatar Ukur merupakan suatu wilayah yang cukup luas, mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat, terdiri atas sembilan daerah yang disebut “Ukur Sasanga”.

Setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh (1579/1580) akibat gerakan Pasukan banten dalam usaha menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, Tatar Ukur menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, penerus Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Sumedanglarang didirikan dan diperintah pertama kali oleh Prabu Geusan Ulun pada (1580-1608), dengan ibukota di Kutamaya, suatu tempat yang terletak sebelah Barat kota Sumedang sekarang. Wilayah kekuasaan kerajaan itu meliputi daerah yang kemudian disebut Priangan, kecuali daerah Galuh (sekarang bernama Ciamis).

Ketika Kerajaan Sumedang Larang diperintah oleh Raden Suriadiwangsa, anak tiri Geusan Ulun dari rtu Harisbaya, Sumedanglarang menjadi daerah kekuasaan Mataram sejak tahun 1620. Sejak itu status Sumedanglarang pun berubah dari kerajaan menjadi kabupaten dengan nama Kabupaten Sumedang. Mataram menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanannya di bagian Barat terhadap kemungkinan serangan Pasukan Banten dan atau Kompeni yang berkedudukan di Batavia, karena Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) bermusuhan dengan Kompeni dan konflik dengan Kesultanan Banten.

Untuk mengawasi wilayah Priangan, Sultan Agung mengangkat Raden Aria Suradiwangsa menjadi Bupati Wedana (Bupati Kepala) di Priangan (1620-1624), dengan gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, terkenal dengan sebutan Rangga Gempol I.

Tahun 1624 Sultan agung memerintahkan Rangga Gempol I untuk menaklukkan daerah Sampang (Madura). Karenanya, jabatan Bupati Wedana Priangan diwakilkan kepada adik Rangga Gempol I pangeran Dipati Rangga Gede. Tidak lama setelah Pangeran Dipati Rangga Gede menjabat sebagai Bupati Wedana, Sumedang diserang oleh Pasukan Banten. Karena sebagian Pasukan Sumedang berangkat ke Sampang, Pangeran Dipati Rangga Gede tidak dapat mengatasi serangan tersebut. Akibatnya, ia menerima sanksi politis dari Sultan Agung. Pangeran Dipati Rangga Gede ditahan di Mataram. Jabatan Bupati Wedana Priangan diserahkan kepada Dipati Ukur, dengan syarat ia harus dapat merebut Batavia dari kekuasaan Kompeni.

Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur untuk membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Akan tetapi serangan itu mengalami kegagalan. Dipati Ukur menyadari bahwa sebagai konsekwensi dari kegagalan itu ia akan mendapat hukuman seperti yang diterima oleh Pangeran Dipati Rangga gede, atau hukuman yang lebih berat lagi. Oleh karena itu Dipati Ukur beserta para pengikutnya membangkang terhadap Mataram. Setelah penyerangan terhadap Kompeni gagal, mereka tidak datang ke Mataram melaporkan kegagalan tugasnya. Tindakan Dipati Ukur itu dianggap oleh pihak Mataram sebagai pemberontakan terhadap penguasa Kerajaan Mataram.

Terjadinya pembangkangan Dipati Ukur beserta para pengikutnya dimungkinkan, antara lain karena pihak Mataram sulit untuk mengawasi daerah Priangan secara langsung, akibat jauhnya jarak antara Pusat Kerajaan Mataram dengan daerah Priangan. Secara teoritis, bila daerah tersebut sangat jauh dari pusat kekuasaan, maka kekuasaan pusat di daerah itu sangat lemah. Walaupun demikian, berkat bantuan beberapa Kepala daerah di Priangan, pihak Mataram akhirnya dapat memadamkan pemberontakan Dipati Ukur. Menurut Sejarah Sumedang (babad), Dipati Ukur tertangkap di Gunung Lumbung (daerah Bandung) pada tahun 1632.

Setelah “pemberontakan” Dipati Ukur dianggap berakhir, Sultan Agung menyerahkan kembali jabatan Bupati Wedana Priangan kepada Pangeran Dipati Rangga Gede yang telah bebas dari hukumannya. Selain itu juga dilakukan reorganisasi pemerintahan di Priangan untuk menstabilkan situasi dan kondisi daerah tersebut. Daerah Priangan di luar Sumedang dan Galuh dibagi menjadi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Parakanmuncang dan Kabupaten Sukapura dengan cara mengangkat tiga kepala daerah dari Priangan yang dianggap telah berjasa menumpas pemberontakan Dipati Ukur.

Ketiga orang kepala daerah dimaksud adalah Ki Astamanggala, umbul Cihaurbeuti diangkat menjadi mantri agung (bupati) Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Tanubaya sebagai bupati Parakanmuncang dan Ngabehi Wirawangsa menjadi bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha. Ketiga orang itu dilantik secara bersamaan berdasarkan “Piagem Sultan Agung”, yang dikeluarkan pada hari Sabtu tanggal 9 Muharam Tahun Alip (penanggalan Jawa). Dengan demikian, tanggal 9 Muharam Taun Alip bukan hanya merupakan hari jadi Kabupagten Bandung tetapi sekaligus sebagai hari jadi Kabupaten Sukapura dan Kabupaten Parakanmuncang.

Berdirinya Kabupaten Bandung, berarti di daerah Bandung terjadi perubahan terutama dalam bidang pemerintahan. Daerah yang semula merupakan bagian (bawahan) dari pemerintah kerajaan (Kerajaan Sunda-Pajararan kemudian Sumedanglarang) dengan status yang tidak jelas, berubah menjadi daerah dengan sttus administrative yang jelas, yaitu kabupaten.

Setelah ketiga bupati tersebut dilantik di pusat pemerintahan Mataram, mereka kembali ke daerah masing-masing. Sadjarah Bandung (naskah) menyebutkan bahwa Bupati Bandung Tumeggung Wiraangunangun beserta pengikutnya dari Mataram kembali ke Tatar Ukur. Pertama kali mereka dating ke Timbanganten. Di sana bupati Bandung mendapatkan 200 cacah. Selanjutnya Tumenanggung Wiraangunangun bersama rakyatnya membangun Krapyak, sebuah tempat yang terletak di tepi Sungat Citarum dekat muara Sungai Cikapundung, (daerah pinggiran Kabupaten Bandung bagian Selatan) sebagai ibukota kabupaten. Sebagai daerah pusat kabupaten Bandung, Krapyak dan daerah sekitarnya disebut Bumi kur Gede.

Wilayah administrative Kabupaten Bandung di bawah pengaruh Mataram (hingga akhir abad ke-17), belum diketahui secara pasti, karena sumber akurat yang memuat data tentang hal itu tidak/belum ditemukan. Menurut sumber pribumi, data tahap awal Kabupaten Bandung meliputi beberapa daerah antara lain Tatar Ukur, termasuk daerah Timbanganten, Kuripan, Sagaraherang, dan sebagian Tanahmedang.

Boleh jadi, daerah Priangan di luar Wilayah Kabupaten Sumedang, Parakanmuncang, Sukapura dan Galuh, yang semula merupakan wilayah Tatar Ukur (Ukur Sasanga) pada masa pemerintahan Dipati Ukur, merupakan wilayah administrative Kabupaten Bandung waktu itu. Bila dugaan ini benar, maka Kabupaten Bandung dengan ibukota Krapyak, wilayahnya mencakup daerah Timbanganten, Gandasoli, Adiarsa, Cabangbungin, Banjaran, Cipeujeuh, Majalaya, Cisondari, Rongga, Kopo, Ujungberung dan lain-lain, termasuk daerah Kuripan, Sagaraherang dan Tanahmedang.

Kabupaten Bandung sebagai salah satu Kabupaten yang dibentuk Pemerintah Kerajaan Mataram, dan berada di bawah pengaruh penguasa kerajaan tersebut, maka sistem pemerintahan Kabupaten Bandung memiliki sistem pemerintahan Mataram. Bupati memiliki berbagai jenis symbol kebesaran, pengawal khusus dan prajurit bersenjata. Simbol dan atribut itu menambah besar dan kuatnya kekuasaan serta pengaruh Bupti atas rakyatnya.

Besarnya kekuasaan dan pengaruh bupati, antara lain ditunjukkan oleh pemilikan hak-hak istimewa yang biasa dmiliki oleh raja. Hak-hak dimaksud adalah hak mewariskan jabatan, ha memungut pajak dalam bentuk uang dan barang, ha memperoleh tenaga kerja (ngawula), hak berburu dan menangkap ikan dan hak mengadili.

Dengan sangat terbatasnya pengawasan langsung dari penguasa Mataram, maka tidaklah heran apabila waktu itu Bupati Bandung khususnya dan Bupati Priangan umumnya berkuasa seperti raja. Ia berkuasa penuh atas rakyat dan daerahnya. Sistem pemerinatahn dan gaya hidup bupati merupakan miniatur dari kehidupan keraton. Dalam menjalankan tugasnya, bupati dibantu oleh pejabat-pejabat bawahannya, seperti patih, jaksa, penghulu, demang atau kepala cutak (kepala distrik), camat (pembantu kepala distrik), patinggi (lurah atau kepala desa) dan lain-lain.

Kabupaten Bandung berada dibawah pengaruh Mataram sampai akhir tahun 1677. Kemudian Kabupaten Bandung jatuh ketangan Kompeni. Hal itu terjadi akibat perjanjian Mataram-Kompeni (perjanjian pertama) tanggal 19-20 Oktober 1677. Di bawah kekuasaan Kompeni (1677-1799), Bupati Bandung dan Bupati lainnya di Priangan tetap berkedudukan sebagai penguasa tertinggi di kabupaten, tanpa ikatan birokrasi dengan Kompeni.

Sistem pemerintahan kabupaten pada dasarnya tidak mengalami perubahan, karena Kompeni hanya menuntut agar bupati mengakui kekuasaan Kompeni, dengan jaminan menjual hasil-hasil bumi tertentu kepada VOC. Dalam hal ini bupati tidak boleh mengadakan hubungan politik dan dagang dengan pihak lain. Satu hal yang berubah adalah jabatan bupati wedana dihilangkan. Sebagai gantinya, Kompeni mengangkat Pangeran Aria Cirebon sebagai pengawas (opzigter) daerah Cirebon-Priangan (Cheribonsche Preangerlandan).

Salah satu kewajiban utama bupati terhadap kompeni adalah melaksanakan penanaman wajib tanaman tertentu, terutama kopi, dan menyerahkan hasilnya. Sistem penanaman wajib itu disebut Preangerstelsel. Sementara itu bupati wajib memelihara keamanan dan ketertiban daerah kekuasaannya. Bupati juga tidak boleh mengangkat atau memecat pegawai bawahan bupati tanpa pertimbangan Bupati Kompeni atau penguasa Kompeni di Cirebon. Agar bupati dapat melaksanakan kewajiban yang disebut terakhir dengan baik, pengaruh bupati dalam bidang keagamaan, termasuk penghasilan dari bidang itu, seperti bagian zakar fitrah, tidak diganggu baik bupati maupun rakyat (petani) mendapat bayaran atas penyerahan kopi yang besarnya ditentukan oleh Kompeni.

Hingga berakhirnya kekuasaan Kompeni-VOC akhir tahun 1779, Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak. Selama itu Kabupaten Bandung diperintah secara turun temurun oleh enam orang bupati. Tumenggung Wiraangunangun (merupakan bupati pertama) ankatan Mataram yang memerintah sampai tahun 1681. Lima bupati lainnya adalah bupati angkatan Kompeni yakni Tumenggung Ardikusumah yang memerintah tahun 1681-1704, Tumenggung Anggadireja I (1704-1747), Tumenggung Anggadireja II (1747-1763), R. Anggadireja III dengan gelar R.A. Wiranatakusumah I (1763-1794) dan R.A. Wiranatakusumah II yang memerintah dari tahun 1794 hingga tahun 1829. Pada masa pemerintahan bupati R.A. Wiranatakusumah II, ibukota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak ke Kota Bandung.

Berdirinya Kota Bandung

Ketika Kabupaten Bandung dipimpin oleh Bupati RA Wiranatakusumah II, kekuasaan Kompeni di Nusantara berakhir akibat VOC bangkrut (Desember 1799). Kekuasaan di Nusantara selanjutnya diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan Gubernur Jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811).

Sejalan dengan perubahan kekuasaan di Hindia Belanda, situasi dan kondisi Kabupaten Bandung mengalami perubahan. Perubahan yang pertama kali terjadi adalah pemindahan ibukota kabupaten dari Krapyak di bagian Selatan daerah Bandung ke Kota Bandung yang ter;etak di bagian tengah wilayah kabupaten tersebut.

Antara Januari 1800 sampai akhir Desember 1807 di Nusantara umumnya dan di Pulau Jawa khususnya, terjadi vakum kekuasaan asing (penjajah), karena walaupun Gubernur Jenderal Kompeni masih ada, tetapi ia sudah tidak memiliki kekuasaan. Bagi para bupati, selama vakum kekuasaan itu berarti hilangnya beban berupa kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi bagi kepentingan penguasa asing (penjajah). Dengan demikian, mereka dapat mencurahkan perhatian bagi kepentingan pemerintahan daerah masing-masing. Hal ini kiranya terjadi pula di Kabupaten Bandung.

Menurut naskah Sadjarah Bandung, pada tahun 1809 Bupati Bandung Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Karapyak ke daerah sebelah Utara dari lahan bakal ibukota. Pada waktu itu lahan bakal Kota Bandung masih berupa hutan, tetapi di sebelah utaranya sudah ada pemukiman, yaitu Kampung Cikapundung Kolot, Kampung Cikalintu, dan Kampung Bogor. Menurut naskah tersebut, Bupati R.A. Wiranatakusumah II pindah ke Kota Bandung setelah ia menetap di tempat tinggal sementara selama dua setengah tahun.

Semula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti) kemudian ia pindah Balubur Hilir. Ketika Deandels meresmikan pembangunan jembatan Cikapundung (jembatan di Jl. Asia Afrika dekat Gedung PLN sekarang), Bupati Bandung berada disana. Deandels bersama Bupati melewati jembatan itu kemudian mereka berjalan ke arah timur sampai disuatu tempat (depan Kantor Dinas PU Jl. Asia Afrika sekarang). Di tempat itu deandels menancapkan tongkat seraya berkata: “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!”. Rupanya Deandels menghendaki pusat kota Bandung dibangun di tempat itu.

Sebagai tindak lanjut dari ucapannya itu, Deandels meminta Bupati Bandung dan Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten masing-masing ke dekat Jalan Raya Pos. Permintaan Deandels itu disampaikan melalui surat tertanggal 25 Mei 1810.

Pindahnya Kabupaten Bandung ke Kota Bandung bersamaan dengan pengangkatan Raden Suria menjadi Patih Parakanmuncang. Kedua momentum tersebut dikukuhkan dengan besluit (surat keputusan) tanggal 25 September 1810. Tanggal ini juga merupakan tanggal Surat Keputusan (besluit), maka secara yuridis formal (dejure) ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandung.

Boleh jadi bupati mulai berkedudukan di Kota Bandung setelah di sana terlebih dahulu berdiri bangunan pendopo kabupaten. Dapat dipastikan pendopo kabupaten merupakan bangunan pertama yang dibangun untuk pusat kegiatan pemerintahan Kabupaten Bandung.

Berdasarkan data dari berbagai sumber, pembangunan Kota Bandung sepenuhnya dilakukan oleh sejumlah rakyat Bandung dibawah pimpinan Bupati R.A. Wiranatakusumah II. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa bupati R.A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) kota Bandung.

Berkembangnya Kota Bandung dan letaknya yang strategis yang berada di bagian tengah Priangan, telah mendorong timbulnya gagasan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1856 untuk memindahkan Ibukota Keresiden priangan dari Cianjur ke Bandung. Gagasan tersebut karena berbagai hal baru direalisasikan pada tahun 1864. Berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal tanggal 7 Agustus 1864 No.18, Kota Bandung ditetapkan sebagai pusat pemerintahan Keresidenan Priangan. Dengan demikian, sejak saat itu Kota Bandung memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai Ibukota Kabupaten Bandung sekaligus sebagai ibukota Keresidenan Priangan. Pada waktu itu yang menjadi Bupati Bandung adalah R.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874).

Sejalan dengan perkembangan fungsinya, di Kota Bandung dibangun gedung keresidenan di daerah Cicendo (sekarang menjadi Rumah Dinas Gubernur Jawa Barat) dan sebuah hotel pemerintah. Gedung keresidenan selesai dibangun tahun 1867.

Perkembangan Kota Bandung terjadi setelah beroperasi transportasi kereta api dari dan ke kota Bandung sejak tahun 1884. Karena Kota Bandung berfungsi sebagai pusat kegiatan transportasi kereta api “Lin Barat”, maka telah mendorong berkembangnya kehidupan di Kota Bandung dengan meningkatnya penduduk dari tahun ke tahun.
Di penghujung abad ke-19, penduduk golongan Eropa jumlahnya sudah mencapai ribuan orang dan menuntut adanya lembaga otonom yang dapat mengurus kepentingan mereka. Sementara itu pemerintah pusat menyadari kegagalan pelaksanaan sistem pemerintahan sentralistis berikut dampaknya. Karenanya, pemerintah sampai pada kebijakan untuk mengganti sistem pemerintahan dengan sistem desentralisasi, bukan hanya desentralisasi dalam bidang keuangan, tetapi juga desentralisasi dalam pemberian hak otonomi bidang pemerintahan (zelfbestuur)

Dalam hal ini, pemerintah Kabupaten Bandung di bawah pimpinan Bupati RAA Martanagara (1893-1918) menyambut baik gagasan pemerintah kolonial tersebut. Berlangsungnya pemerintahan otonomi di Kota Bandung, berarti pemerintah kabupaten mendapat dana budget khusus dari pemerintah kolonial yang sebelumnya tidak pernah ada.

Berdasarkan Undang-undang Desentralisasi (Decentralisatiewet) yang dikeluarkan tahun 1903 dan Surat Keputusan tentang desentralisasi (Decentralisasi Besluit) serta Ordonansi Dewan Lokal (Locale Raden Ordonantie) sejak tanggal 1 April 1906 ditetapkan sebagai gemeente (kotapraja) yang berpemerintahan otonomom. Ketetapan itu semakin memperkuat fungsi Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan, terutama pemerintahan Kolonial Belanda di Kota Bandung. Semula Gemeente Bandung
Dipimpin oleh Asisten Residen priangan selaku Ketua Dewan Kota (Gemeenteraad), tetapi sejak tahun 1913 gemeente dipimpin oleh burgemeester (walikota).

Sumber: Kota-kota Lama di Jawa Barat
Penerbit: Alqaprint Jatinangor
**sundanet.com**

oleh : A. Sobana Hardjasaputra

Read Full Post »

Happy Idl’ Fitri

Idul Fitri, merupakan hari bahagia dan syukur bagi ummat Islam.

Ada dua nikmat yang Allah berikan pada bulan Ramadhan, yang dapat terasa terasa secara lahiriah. Yang pertama adalah nikmat pada saat berbuka. Kita merasakan betapa nikmatnya saat berbuka walaupun hanya dengan seteguk air, atau hanya sekedar sebiji kurma, atau sepotong roti. Nikmat, karena kita telah melampaui puasa hari itu dengan tuntas.

Nikmat kedua adalah pada hari raya idul fitri ini. Pada hari ini kita merayakan kemenangan kita dalam memerangi hawa nafsu, dialah sebetulnya musuh kita yang paling besar.

Diriwayatkan, ketika Rasulullah dan para sahabat baru pulang dari salah satu perang besar, beliau berkata :”Kita baru saja melakukan suatu jihad kecil dan akan menghadapi jihad yang besar dan berat”. Para sahabat heran, karena mereka menyangka baru saja mereka melakukan perang yang sangat berat dan meminta banyak pengorbanan, lantas bertanya “Jihad apakah lagi ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah : “Puasa, yaitu jihad memerangi hawa nafsu”.

Kemenangan dari peperangan/jihad besar inilah yang kita rayakan. Dan sudah pasti merupakan sesuatu yang menyenangkan untuk kita. Itulah nikmatnya. Kalau dikampung asal kita, kita bisa melihat kegembiraan terpancar dari setiap orang, setiap rumah. Orang saling berkunjung dan saling berucap salam dan saling bermaaf-maafan. Kita berharap jika hari ini kita saling memeluk, saling bermaaf-maafan, saling mendekatkan diri karena Allah, untuk seterusnya kesalahan kita kekhilafan kita masing-masing kita maafkan. Mengapa kita tak bisa melupakan kesalahan orang lain ? Allah saja yang Maha Kuasa, yang menciptakan kita, bisa memaafkan kesalahan dan dosa-dosa umatNya. Rasulullah saw. bersabda : “Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang.” (HR.Bukhary Muslim).

Allahu Akbar Alahu Akbar Allahu Akbar walillahilhamd.

Jika Allah menjanjikan pada yang berpuasa karena keikhlasan dan keimanannnya ampunan atas segala dosa dan kesalahan yang telah lalu, maka pada hakekatnya kita telah dikembalikan pada kondisi fitrah kita. Seperti layaknya bayi yang baru lahir. Itulah sebabnya hari raya setelah Ramadhan disebut Hari Raya Fitri. Fitri, karena kita seperti selembar kertas yang putih tampa bercak kotor dari dosa. Dengan modal itu, kita jalani hari-hari, bulan dan tahun yang akan datang dengan lebih baik, lebih sedikit berbuat dosa dan kesalahan sehingga, pada bulan Ramadhan tahun depan , kalau umur kita sampai, kita bisa tidak terlalu repot membersihkannya. Demikian juga pada hari-hari mendatang, kita bisa menjalani kehidupan beribadah yang sama kualitasnya dengan bulan kemarin. Kalau kemarin bulan puasa kita mampu membaca/tadarus Quran beberapa ayat, atau satu ain atau lebih dari itu, alangkah baiknya kebiasaan itu tetap kita jalankan di hari-hari mendatang. Kalau kemarin kita bisa menahan amarah, perasaan kesal atau hasrat-hasrat negatif, maka seharusnya kita juga bisa melakukannya pada hari-hari dan bulan-bulan lainnya. Ibarat orang yang baru keluar dari kamp pelatihan, setelah sebulan mengalami latihan dan gemblengan, maka inilah saatnya kita menghadapi dunia nyata kehidupan sehari-hari yang penuh dengan tantangan. Kita coba menahan nafsu angkara, dan nafsu-nafsu lainnya, dengan harapan semoga Allah SWT meridhai setiap langkah yang kita tempuh.

Aminn…

Semoga kita menjadi pemenang di hari kemenangan !

“Met Lebaran ya…Minal Aidzin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin”

ditunggu kiriman ketupat dan opor ayamnya 😀

Read Full Post »

Jatuh cinta…

wah…kalo ngomongin cinta sih ..saya butuh beberapa hari buat nyelesain postingan saya 🙂 hahahaha…abis semua itu serba indah, serba cantik, serba menyenangkan kalau mambahas cinta…Apalagi kalau sedang Jatuh Cinta wiiih,,,,berjuta rasanya…!!! serasa dunia ini hanya di penuhi dengan bunga saja. 🙂

kapan sih kamu jatuh cinta ?? kalo aku pertama kali punya perasaan “suka” dan “tertarik” sama lawan jenis itu kelas 6 SD (centil ya?? kecil2 ko udh suka ama cowo??).. waktu itu sih, rasanya seneng aja main ama cowok…maen sepeda, berenang, panco (oh, My God !!), bercanda..yaah lebih ke kaya gitu lah…(hihihihi) namanya juga anak kecil ya ??

trus aku mulai pacaran tepatnya kelas 3 smp, waktu itu lagi masa puber2nya tuuhh…lagi ngerasaiin yang namanya deg-degan, taksir-taksiran, kirim-kirim salam, pokoknya dunia kaya lolipop…ceria terus.. nah, waktu smp aku dapet pacar yang beda sekolah, ketemunya di tempat les gitu (namanya di rahasiakan ahh), lucu deh pacarannya….masih malu-malu, tapi ada kejadian lucu, kita payungan waktu hujan end moment itu dijadiin kesempatan buat pegangan tangan (hahahhaa), dan lebih lucunya lagi kita putus gara-gara mau menghadapi ebtanas (ya ampoon, pliiss dehh…)

nah, menjelang sma rada-rada pake real feal nih waktu jalanin ama cowo…ada yang menarik kalo cerita cinta di sma ku..sma aku itu deket sawah (samping sawah bangeds), nah, anak2 sma itu suka nyari jalan pintas kalo mau ke sekolah..yaitu lewat jalan sempit di sawah yang sebelahnya selokan gede (aslinya gede !). dan suatu hari (yang sangat sial) saya terburu-buru banget dan dengan pedenya lewat dengan lari-lari kecil di pinggiran selokan itu, dan dengan indahnya bergaya salto sedikit tiger sprong saya terperosok dan tercebur dengan sangat sukses ke selokan yang (asli gede dan dalemmmm !!). tau ga ? saya itu sempet nge-hang untuk beberapa detik & baru menyadari kalo saya bener2 jatuh ! wah, malunya tidak terkira (malunya sampe 3 tahun !) menyebalkan deh…

ehhh, setelah mengalami pertolongan pertama, kedua dst….saya ke kelas dengan muka asem (sempet sekolah lho), pengen nangis dan marah-marah rasanya.. mana sobat2 saya pada bermuka aneh (sambil nahan bau yang semerbak ga jelas-padahal udh mandi 3 kali) hiks…ehh, pulang sekolah saya di tembak cowo !!! (ya ampooonnn,,,tau ga ampe skrg saya masih inget moment penting bersejarah itu..tanggal 3 mei !) tapi taonnya lupa hihihihii…

nah, kalo ngomongn cinta di masa kuliah sih….wuuuuhhhh, penuh dengan polemik, cerita, sakit hati, pengorbanan, kasih sayang, uji kesetiaan, cemburu, keseriusan, dan komitmen…pokoknya kompleks deh…dan guys, aku sekarang sedang jatuh cinta..setiap hari jatuh cinta !! hehehee….

tapi itu rahasia :p

selamat jatuh cinta !!!!!

Read Full Post »

Pengertian cinta ?

Aku jatuh cinta kepada dirinya… SUngguh-sungguh cinta Oh, apa adanya..

tak pernah ku ragu namun tetap slalu menunggu,,,sungguh aku..jatuh cinta kepadanya..(Roulette-Aku Jatuh Cinta)

Lirik di atas, buat gue terdiam sejenak….mengartikan sebuah kata yang sangat simple..yang familiar dan punya banyak makna..yes that is love…cinta, ai, ashiteru…dll..

Menurut Wikipedia, cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Para pakar telah mendefinisikan dan memilah-milah istilah ini yang pengertiannya sangat rumit. Antara lain mereka membedakan:

  1. Cinta terhadap keluarga
  2. Cinta terhadap teman-teman, atau philia
  3. Cinta yang romantis atau juga disebut asmara
  4. Cinta yang hanya merupakan hawa nafsu atau cinta eros
  5. Cinta sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
  6. Cinta dirinya sendiri, yang disebut narsisme
  7. Cinta akan sebuah konsep tertentu
  8. Cinta akan negaranya atau patriotisme
  9. Cinta akan bangsa atau nasionalisme

Beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia atau bahasa Melayu apabila dibandingkan dengan beberapa bahasa mutakhir di Eropa, terlihat lebih banyak kosakatanya dalam mengungkapkan konsep ini. Termasuk juga bahasa Yunani kuna, yang membedakan antara tiga atau lebih konsep: eros, philia, dan agape.

Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam Menurut Erich Fromm, ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:

  1. Pengenalan
  2. Tanggung jawab
  3. Perhatian
  4. Saling menghormati

Seperti banyak jenis kekasih, ada banyak jenis cinta. Cinta berada di seluruh semua kebudayaan manusia. Oleh karena perbedaan kebudayaan ini, maka pendefinisian dari cinta pun sulit ditetapkan. Lihat hipotesis Sapir-Whorf.

Ekspresi cinta dapat termasuk cinta kepada ‘jiwa’ atau pikiran, cinta hukum dan organisasi, cinta badan, cinta alam, cinta makanan, cinta uang, cinta belajar, cinta kuasa, cinta keterkenalan, dll. Cinta lebih berarah ke konsep abstrak, lebih mudah dialami daripada dijelaskan.

Cinta kasih yang sudah ada perlu selalu dijaga agar dapat dipertahankan keindahannya..

(so serius ah gue :p)

Read Full Post »

Teuku Adifitrian, atau lebih dikenal sebagai Tompi lahir di Lhokseumawe, Aceh dan mengenyam masa kecilnya disana. Datang ke Jakarta pertama kali tahun 1997 untuk melanjutkan studinya di Universitas Indonesia fakultas Kedokteran. Kini pria berparas Indonesia Timur ini telah menyandang gelar dokter umum dan kini tengah menyelesaikan studi spesialisnya dengan bidang Bedah Plastik.
Sebagai kelahiran tanah serambi mekkah ini, Tompi memang memiliki kesenangan akan bidang tarik suara. Ia pun mendalami hobinya ini melalui berbagai sanggar tari di Aceh, dimana ia mempelajari tari sambil bernyanyi dan bermain gendang. Lalu hobi ini terus berlanjut ketika ia telah hijrah ke Jakarta.
Bermula dari kegiatan kegiatan kampus, Tompi mulai memberanikan diri untuk tampil bernyanyi. Dari sinilah olah vokalnya terus terbentuk melalui perjumpaannya dengan beberapa nama besar di bidang seni musik dan tarik suara seperti Bertha dan Tjut Deviana. Pengalaman pula yang akhirnya telah membawa warna suara dan musik pada Tompi yang sekarang ini.
Selain bernyanyi, Tompi juga mengembangkan dirinya untuk mencipta lagunya sendiri. Ia mulai mencipta beberapa lagunya sendiri pada waktu senggangnya dengan bantuan alat perekam kecil atau bahkan telepon genggamnya. Ia mengambil inspirasi pembuatan lagu dari suasana sekitarnya pada saat tersebut, atau juga pengalaman pribadi dari orang orang terdekatnya.
Setelah cukup lama malang melintang ‘ngamen’ dari satu acara ke acara lain, Tompi sekitar 3 tahun yang lalu mendapat tawaran untuk menjadi house band di The Bar, Four Season Hotel. Lalu perjalanan karirnya sebagai penyanyi profesional telah membawanya ke berbagai pengalaman, termasuk menjadi vokalis grup band CHEROKEE yang memberinya kesempatan untuk tampil di Singapore selama 3 hari berturut turut. Di Singapore ini Tompi diberi julukan sebagai SuperVocalist atau SuperSound oleh publik yang menonton pertunjukkannya selama 3 hari berturut turut di tanah Singapore itu.
Tak sampai di situ, Tompi pun berkesempatan bergabung dengan BALI LOUNGE sebagai vokalis, dimana band ini memiliki warna musik yang cenderung etnis modern. Kemampuan olah vokal Tompi pun banyak terasah di sini, sehingga kini Tompi memiliki warna suara yang sangat khas.
Setelah penempaan pribadinya tersebut, Tompi kini akhirnya memutuskan untuk membuat album solo yang direlease pada Juli 2005 berjudul album “T” . Materi yang dipergunakan dalam album ini sebagian besar merupakan kumpulan lagu lagu ciptaannya dulu. Walau tentunya diperkuat 3 lagu baru yaitu “Selalu Denganmu”, “I Will Teach You How To Dance”, “Dance With Me”.
Pembuatan album “T” ini terinspirasi dari pengalaman pribadi dan kumpulan cerita cerita teman-teman. Proses pembuatannya memakan waktu sekitar 15 hari dari mulai rekaman dan mastering di Jakarta dan mixing di Singapore. Lagu I Will Teach You How To Dance, diciptakan Tompi dalam waktu sepuluh menit sebelum take. Proses pembuatan album ini sendiri membawa kesan khusus bagi Tompi karena ia dibantu oleh musisi musisi terkenal seperti Louis Pragasm, juga oleh Marina Xavier yang menyumbangkan lirik lirik lagu berbahasa Inggris.
Juli 2005 ini, album “T” beredar di seluruh nusantara. Album yang berisikan 12 lagu yang terdiri dari 6 lagu berbahasa Indonesia dan 6 lagu berbahasa Inggris. Secara keseluruhan genre dari album ini adalah Pop Jazzy dengan mengusung warna suara Tompi yang khas dan iringan musik yang mengalun. Tompi mengatakan album ini memiliki pesan cinta yang sangat indah yang disajikan dalam berbagai mood baik itu suka, duka, ceria maupun sedih. Tompi pun berharap bahwa album solo pertamanya ini dapat diterima oleh semua kalangan baik itu pencinta musik jazz maupun pop tanah air.
Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 1427 H, Tompi meluncurkan kembali albumnya dengan desain cover yang baru. Berbeda dengan cover album yang diluncurkan pada tahun 2005 lalu. Album rohani ini menghadirkan sentuhan modern irama lounge namun tetap bernuansakan padang pasir yang sangat khas dan kental dengan suasana Ramadhan. Irama lounge yang Tompi hadirkan di album ‘soulful ramadhan’ ini bertujuan untuk menarik perhatian dari para segmen anak-anak muda dan memberikan semangat Ramadhan di bulan suci ini. Proses pembuatan ‘soulful ramadhan’ ini memakan waktu lebih kurang 2 minggu dari ide penciptaan sampai dengan mixing dan mastering. Kesepuluh lagu yang dihadirkan adalah kumpulan lagu-lagu baru yang 2 diantaranya berbahasa daerah Aceh (tanah asal kelahiran Tompi), yaitu ‘Doa untuk Aceh’ dan ‘Salam’. Kedua lagu tersebut diciptakan khusus oleh Tompi untuk membangkitan semangat rakyat Aceh yang belum genap setahun terkena musibah. Musisi-musisi yang turut berpartisipasi dalam album rohani ‘soulful ramadhan’ adalah Kevin Wahl, Ayi, Bibus, Yudhis, Bang Sa’ad, Michael Patto dan Bertha yang turut menyumbangkan 3 buah lagu di album tersebut. Hit single album ‘soulful ramadhan’ adalah track lagu no. 1 yaitu ‘Ramadhan Datang’ dan track lagu no. 3 yaitu ‘Muhammad Tlah Mengajarkan Kita’. Lagu-lagu dalam album ‘soulful ramadhan’ memang terkesan berbeda, dikarenakan sentuhan khas Tompi yang dalam 10 lagu religius bernuansa chill out. Tompi berharap album rohani dengan sentuhan berbeda kali ini dapat diterima baik oleh para pendengar.
Sukses album “T” (tahun 2005) dan album religi “Soulful Ramadhan” (tahun 2006), yang mengantarnya memperoleh nominasi dalam 2 kategori AMI Awards 2006, yaitu Kategori Karya Produksi Terbaik Bidang Rhytym & Blues dan Kategori Best of The Best Pendatang Baru Terbaik, kini Tompi hadir dengan album terbaru yang diberi judul Playful. Lagu yang menjadi hits dalam album ini berjudul “Salahkah” adalah sebuah lagu bernuansa pop yang bertemakan tentang cinta dan perselingkuhan.
Album ini berisikan 13 lagu, yaitu : Balonku, Lulu dan Siti, Salahkan, Jangan Engkau Ganggu Cintaku, Valentine Day, Engkaulah Satu-satunya, T Scat, Aku Tak Mau, Kekagumanku, I Am Falling In Love, Even If, Can You Feel My Music, Soft Shoe. Lagu-lagu dalam album ini hadir dengan tampilan musik yang beragam sehingga membuat album ini lebih berbeda.
Disini kita bisa melihat sisi kekanakan dari seorang Tompi, yang tercermin dengan adanya sebuah lagu anak-anak yang sudah dikenal orang secara umum yang berjudul “Balonku”. Yang membuatnya berbeda, lagu tersebut diaransemen ulang dan dijadikan lagu pembuka di album ini. Selain itu, dalam lagu “Kekagumanku” Tompi mengekspresikan kekagumannya pada sosok ibu dimana lagu tersebut memang ia dedikasikan untuk ibundanya tercinta. Walaupun ada beberapa lagu yang bertema serius, namun kebanyakan justru menggambarkan keceriaan dengan medium beat.
Secara keseluruhan dalam album ini, aransemen lagu diperkaya dengan aransemen vokal. Karakter vokal yang kuat dapat dirasakan di setiap lagu. Selain itu, Tompi mengfokuskan pada lirik-lirik yang sederhana dan bercerita seputar percintaan. Yang menarik adalah beberapa lagu dalam album ini diangkat dengan tema cinta komedi, seperti lagu “Lulu dan Siti” dan “Aku Tak Mau”.
Persiapan album ini memang memakan waktu yang cukup lama, karena dalam proses pembuatannya, Tompi berperan sebagai produser, penulis lagu, sekaligus penyanyi termasuk backing vokal yang dikerjakannya sendiri. Namun album ini juga melibatkan musisi-musisi muda berbakat seperti: Yudhis, Bibus, Ary, Ilyas dan Derry.
Disini Tompi mencoba mempresentasikan musiknya dengan memasukkan berbagai unsur musik tanpa menghilangkan ciri khasnya. Keinginan untuk bereksperimen dalam arti mengawinkan unsur-unsur musik Rock, Pop, Jazz, Funk, Hip-Hop dan Soul dapat dirasakan dalam album ini, seolah-olah seperti bermain-main dengan musik. Karena itulah, album ini diberi nama Playful.
Kunjungi official web Tompi di  http://www.tompiholics.com

Read Full Post »

Maliq&d’essentials di bentuk pada 15 mei 2002 terdiri dari 8 orang personil yang mengusung musik yang di sebut soulful. Nama Maliq adalah kepanjangan dari music and live instrument quality yang di buat konsepnya oleh Angga dan Widi (producer, composer, arranger & song writer) dan Indra Sulisto yang pada saat itu menjadi executive producer sekaligus manager dari band Maliq&d’essentials saat itu. D’essentials adalah sebuatan untuk personil lainnya yaitu : Indah & Dimi (vocal), Satrio (gitar), Ifa (piano), Jawa (bass) serta Amar (terompet) yang telah menjadi kesatuan dan takdapat dipisahkan.

Maliq&d’essentials pada awalnya selama kurang lebih dua tahun adalah sebuah band yang memulai kariernya dengan tampil di berbagai macam café dan lounge seperti Jamz, Mana Lounge, The Bar Four Seasons Hotel, dll. Penampilan mereka mempunyai tujuan untuk mempersolid band Maliq&d’essentials itu sendiri serta membiasakan pendengar musik untuk mendengar lagu-lagu black music khususnya soul music.

Barulah pada pertengahan tahun 2004 maliq&d’essentials masuk ke dunia rekaman dan albumnya dirilis awal tahun 2005 dengan single pertama “terdiam” dan single kedua untitled serta di awal tahun 2006 dirilis album repackaged yang di sebut 1st Maliq&d’essentials ” Special edition dengan single pertama yang berjudul “The One”.

Pada saat yang bersamaan dengan keluarnya album repackaged 1st Maliq&d’essentials, salah satu vocalist yang bernama Dimi juga mengundurkan diri untuk memulai pengerjakan album solonya yang pertama.

Semenjak tahun 2006 Maliq&d’essentials melanjutkan perjalan dengan ketujuh personilnya. BAnd ini melanjutkan perjalan dengan membuat album berikutnya, yang bertajuk “FREE YOUR MIND” di awal tahun 2007. Single pertama album ini adlah Heaven, yang kemudian di ikuti dengan single kedua”Beri Cinta Waktu”.

Penawaran yang sangat menyenangkan untuk Maliq&d’essentials datang di bulan September, yaitu kesempatan membuat soundtrack sebuah film yang akan di rilis pada awal tahun berikutnya. Maliq&d’essentials memutuskan untuk membuat lagu-lagu yang di masukkan ke dalam soundtrack tersebut menjadi album repackaged “FREE YOUR MIND” dengan single yang berjudul”Dia”.

Sekali lagi terjadi pengantian personil didalam band Maliq&d’essentials bersamaan dengan pengantian tahun dari 2007 ke 2008. Gitaris Maliq&d’essentials “Satrio” mengundurkan diri dan kemudian digantikan oleh “Lale” tentu saja dengan khas warna nya yang berbeda sehingga bisa menambah warna baru di band Maliq&d’essentials.

Maliq juga menyebut penggemarnya dengan d’essentials yang sampai saat ini sudah lebih 10.000 orang anggota di dalamnya dan akan terus berkembang seiring dengan perubahan waktu dan perjalanan band ini.

Perjalanan selama 6 tahun sejak terbentuknya Maliq&d’essentials tidak terlepas dari dukungan yang sangat berarti dari d’essentials, yang selalu setia memnberkan kritik dan saran untuk menjadi lebih baik dan sudah menjadi bagian dari Maliq&d’essentials itu sendiri. Hingga kita bisa mewujudkan salah satu mimpi dari Maliq&d’essentials yaitu mempunyai studio rekaman yang bernama”ORGANIC” dan kantor manajement dengan nama “THE ONE management” yang berdiri di wilayah Jakarta Selatan.

Maliq&d’essentials akan terus berkarya dan semoga album Maliq&d’essentials, selanjutnya menjadi suatu album yang patut di tunggu karena Maliq&d’essentials telah melewati berbagai kejadian yang memberikan banyak pengalaman yang bias mendewasakan dalam bermusik, bersikap dan bersyukur.


Read Full Post »

Older Posts »