Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘musik jazz’ Category

IT Jazz di ITB

nite in friday, 17 october 2008.. acara IT Jazz di ITB diselengarain dari jam 19.00 – end (rencananya katanya ampe jam 22.00)

gue ga gitu tau tentang sejarahnya IT Jazz ini, yang pasti sih yang gue tau IT Jazz ini perkumpulan anak-anak ITB pencinta jazz..nah, berhubung aku pencinta jazz dan sang pacar ngajakin ke sono ya wiss datanglah kita ke kampus yang letaknya di jalan ganesha ini..

meski telat (kita dateng jam 21.00) lantaran les mandarin dulu, kita ga banyak ngelewatin moment asik dari acara ini. Band dengan aliran jazz nya mantabs !!! meski masih skala kampus (ada juga sih yang udah booming keluar) kalo menurut gue, musik nya keren, rapih dan jazz abisss (four thumbs up !!!)..

yang gue hafal ada dua band (katanya yang maen ada lima band-brarti udh kelewat 3 tuhh) yang satu namanya soni and friends dan sekapur sirih. Sekapur sirih ini katanya udh pernah jadi “opening band” di salah satu event jazz yang bisa dikatakan besar. Memang sih musik yang ditawarkan sama band ini bikin penonton berdecak kagum dan ga bisa nahan buat teput tangan (applouse !!!).Permaninannya rapih, asikk, dan berjiwa (Halah,,,) tapi aslinya, maen musik itu kan gampang, tapi maen musik dengan jiwa itu yang susah.. play the music with soul..dan tampaknya udh ada keterikatan jiwa antara personilnya (wey, knapa gue jadi promosi ini band ?? bayar-bayar ahhh 😀 hihihihihihi…)

ada satu lagu yang gue suka dari sekapur sirih : midnite…fiuh, permainannya oke bangettt…lantunan tuts-tuts di keyboardnya seolah-olah kaya di piano classic beneran mantabbsss..

nah, kerennya lagi pas acara mau udahan, ternyata syahrani dateng, dan langsung di suruh special perfomance (ga latihan dulu looh) gitu ama mc nya yang gokil…akhirnya dia nyanyi satu lagu, judulnya summer time..weeeew suaranya syahrani berat-berat nge-jazz abiss lah..kereeeeen banget..

ditutup dengan penampilan syahrani, acara IT jazz ini udahan…secara keseluruhan acaranya asiiik, tapi kalo kata gue sih, bikin event gede aja sekalian..yang ngundang pemuka2 jazz senior kaya indra lesmana gitu deh..meski emang komunitas jazz agak sedikit, tapi kayanya boleh tuh buat di coba bikin event kaya gitu..

heheheee…special thanks to pacar ku yang udah nganterin aku ke acara ini…

ehh, iya sempet kenalan ama mas lukman (drumer nya sekapur sirih) sukses ya mas !! buat band nya dan buat marriednya bulan depan … !!! ntar aku nyusul deh ama fajar 😀 hihihihihihi

cheers,

gitagemintang

Read Full Post »

Maliq&d’essentials di bentuk pada 15 mei 2002 terdiri dari 8 orang personil yang mengusung musik yang di sebut soulful. Nama Maliq adalah kepanjangan dari music and live instrument quality yang di buat konsepnya oleh Angga dan Widi (producer, composer, arranger & song writer) dan Indra Sulisto yang pada saat itu menjadi executive producer sekaligus manager dari band Maliq&d’essentials saat itu. D’essentials adalah sebuatan untuk personil lainnya yaitu : Indah & Dimi (vocal), Satrio (gitar), Ifa (piano), Jawa (bass) serta Amar (terompet) yang telah menjadi kesatuan dan takdapat dipisahkan.

Maliq&d’essentials pada awalnya selama kurang lebih dua tahun adalah sebuah band yang memulai kariernya dengan tampil di berbagai macam café dan lounge seperti Jamz, Mana Lounge, The Bar Four Seasons Hotel, dll. Penampilan mereka mempunyai tujuan untuk mempersolid band Maliq&d’essentials itu sendiri serta membiasakan pendengar musik untuk mendengar lagu-lagu black music khususnya soul music.

Barulah pada pertengahan tahun 2004 maliq&d’essentials masuk ke dunia rekaman dan albumnya dirilis awal tahun 2005 dengan single pertama “terdiam” dan single kedua untitled serta di awal tahun 2006 dirilis album repackaged yang di sebut 1st Maliq&d’essentials ” Special edition dengan single pertama yang berjudul “The One”.

Pada saat yang bersamaan dengan keluarnya album repackaged 1st Maliq&d’essentials, salah satu vocalist yang bernama Dimi juga mengundurkan diri untuk memulai pengerjakan album solonya yang pertama.

Semenjak tahun 2006 Maliq&d’essentials melanjutkan perjalan dengan ketujuh personilnya. BAnd ini melanjutkan perjalan dengan membuat album berikutnya, yang bertajuk “FREE YOUR MIND” di awal tahun 2007. Single pertama album ini adlah Heaven, yang kemudian di ikuti dengan single kedua”Beri Cinta Waktu”.

Penawaran yang sangat menyenangkan untuk Maliq&d’essentials datang di bulan September, yaitu kesempatan membuat soundtrack sebuah film yang akan di rilis pada awal tahun berikutnya. Maliq&d’essentials memutuskan untuk membuat lagu-lagu yang di masukkan ke dalam soundtrack tersebut menjadi album repackaged “FREE YOUR MIND” dengan single yang berjudul”Dia”.

Sekali lagi terjadi pengantian personil didalam band Maliq&d’essentials bersamaan dengan pengantian tahun dari 2007 ke 2008. Gitaris Maliq&d’essentials “Satrio” mengundurkan diri dan kemudian digantikan oleh “Lale” tentu saja dengan khas warna nya yang berbeda sehingga bisa menambah warna baru di band Maliq&d’essentials.

Maliq juga menyebut penggemarnya dengan d’essentials yang sampai saat ini sudah lebih 10.000 orang anggota di dalamnya dan akan terus berkembang seiring dengan perubahan waktu dan perjalanan band ini.

Perjalanan selama 6 tahun sejak terbentuknya Maliq&d’essentials tidak terlepas dari dukungan yang sangat berarti dari d’essentials, yang selalu setia memnberkan kritik dan saran untuk menjadi lebih baik dan sudah menjadi bagian dari Maliq&d’essentials itu sendiri. Hingga kita bisa mewujudkan salah satu mimpi dari Maliq&d’essentials yaitu mempunyai studio rekaman yang bernama”ORGANIC” dan kantor manajement dengan nama “THE ONE management” yang berdiri di wilayah Jakarta Selatan.

Maliq&d’essentials akan terus berkarya dan semoga album Maliq&d’essentials, selanjutnya menjadi suatu album yang patut di tunggu karena Maliq&d’essentials telah melewati berbagai kejadian yang memberikan banyak pengalaman yang bias mendewasakan dalam bermusik, bersikap dan bersyukur.


Read Full Post »

History about Jazz

Seperti halnya musik klasik, sebagian besar orang memang cenderung menganggap jenis musik Jazz terlalu berat, abstrak, dan sulit untuk dicerna. Disamping itu, jazz acap kali distereotipkan sebagai musik kaum elite atau kaum gedongan, walaupun kenyataannya di kalangan “gedongan” sendiri, sebenarnya penggemar ataupun penikmat musik jazz masih merupakan golongan minoritas. Bahkan di kalangan kaum muda dewasa ini sudah umum dijumpai anggapan bahwa jazz adalah “musik orang tua yang membosankan dan membuat kita mengantuk”.

Munculnya imej bagi jazz yang kurang menguntungkan ini berpangkal pada sebuah pengertian yang dominan bahwa fungsi utama musik adalah untuk menghibur dan memberikan kepuasan kepada khalayak, dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Adanya perkembangan teknologi, yaitu munculnya alat perekam suara pada akhir abad –19 telah mengakibatkan pergeseran besar dalam seni musik dunia : jika pada awalnya musik merupakan ekspresi murni perasaan manusia maka kini musik menjadi produk industri rekaman dan komoditas dagang. Kapitalisme industri musik juga telah menggeser musik-musik lama yang menunjukkan identitas kultural masing-masing etnis / bangsa di dunia, dan sebagai gantinya muncullah jenis musik baru yang mengatasi dan meluruhkan perbedaan-perbedaan kultural yang ada, yaitu apa yang disebut “musik populer”. Tanpa mengesampingkan kreativitas dari musisi pop (hanya sebagian kecil musisi pop memiliki kreativitas orisinal !), sesungguhnya tidak sedikit komposisi pop merupakan bentuk-bentuk yang terstandarisasi atau reproduksi dari trend-trend sesaat, dan fenomena ini cenderung berlangsung secara global.

Dalam hal ini patut diperhatikan bahwa musik jazz muncul sebagai peralihan dari musik “tradisional” menuju musik “populer”. Pada awal perkembangannya, jazz dapat diketegorikan sebagai sebuah contoh musik tradisi, dimana musik ini sangat mewakili ekspresi dan kultur masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat. Sebagai musik yang mewakili sebuah masyarakat yang terdiskriminasi, maka perkembangan jenis musik ini juga akan mengalami nasib kurang lebih sama. Timbulnya aliran swing pada dekade 1930-an membawa perubahan penting dalam cara orang memandang musik ini, yang akhirnya berpengaruh pada pengkategorian posisi jazz di antara berbagai musik lain. Era swing ditandai dengan munculnya jazz band dengan jumlah pemain yang besar (big band), yang dapat dilihat sebagai sebuah bentuk orkestrasi ala Eropa yang diaplikasikan dalam jazz, walaupun tetap mempertahankan ciri-ciri pokoknya, seperti improvisasi, sinkopasi dan blue note (nada yang merendah pada not ketiga dan ketujuh, merupakan ciri khas musik blues dan jazz). Dengan perkembangan tersebut, jazz tidak lagi dianggap musik “barbar” karena identik dengan orang kulit hitam. Pada masa itu, jazz bahkan telah menjadi musik populer, dengan irama swing-nya yang cocok untuk berdansa, dan pada masa itu pula jazz mulai menyebar ke belahan dunia lain seperti Eropa ataupun Asia. Tidak sedikit komposisi-komposisi jazz dari musisi handal semacam George Gershwin, Cole Porter atau Duke Ellington diangkat menjadi soundtrack film, dan komposisi-komposisi tersebut sebenarnya merupakan lagu pop pada zamannya.

Perkembangan jazz yang semakin mengarah pada musik hiburan tersebut menimbulkan reaksi di kalangan musisi jazz kulit hitam. Beberapa diantaranya seperti Charlie Parker dan Dizzy Gillespie lantas memperkenalkan bebop, sebuah style baru dalam jazz pada sekitar akhir dekade 1940-an. Kemunculan bebop ini sering disebut sebagai revolusi dalam musik jazz, karena konon para eksponennya memiliki sebuah spirit baru yang bertujuan mengembalikan jazz pada hakikatnya sebagai musik “seni” khas kaum negro. Aliran baru ini ditandai dengan berkembangnya formasi band / combo secara lebih minimalis dengan konsekuensi semakin luasnya ruang bagi improvisasi solo masing-masing pemain. Disamping gaya swing dengan formasi big band-nya, bebop dan beberapa variasi yang muncul kemudian (hard bop, cool jazz, dan sebagainya) menjadi aliran utama (mainstream) dan pusat dari perkembangan jazz dunia hingga masa kini.
Semenjak “revolusi” bebop, jazz agaknya cenderung berkembang menjadi sebuah genre yang lebih eksklusif daripada sebelumnya dan makin tampak terpisah dari berbagai jenis musik lain. Memang, jazz kemudian benar-benar berkembang menjadi sebuah musik “seni” dengan tingkat kesulitan tinggi sebagaimana halnya musik klasik. Pada masa-masa sekarang ini akan lebih banyak dijumpai musisi jazz jebolan sekolah-sekolah musik, walaupun kenyataannya para dedengkot awal jazz hampir semuanya belajar bermusik secara otodidak. Sebagai sebuah genre musik yang makin membutuhkan keseriusan, maka tidak mengherankan apabila jazz mulai agak dijauhi khalayak. Apalagi pada saat itu, trend rock’n roll makin merajai blantika musik populer dunia. Jika pada tahun 1940-an, jazz dapat dijumpai pada komunitas tempat hiburan umum dan pesta-pesta dansa, sejak sekitar tahun 1950 dan selanjutnya akan terasa “bergeser” menuju komunitas intelektual dan akademisi, dimana mereka semakin cenderung memperlakukan musik ini seakan sebuah “disiplin ilmu” tersendiri. Jika ditelaah lebih lanjut, adanya revolusi bebop setidaknya membawa beberapa dampak positif : Pertama, di tengah iklim rasialisme yang masih kuat hingga tahun 1960-an (ingat kasus tertembaknya Martin Luther King, pejuang kulit hitam AS pada tahun 1968 !), jazz mulai dikategorikan sebagai bagian dari “budaya tinggi”, disaat musik rock yang diangkat kaum kulit putih justru lebih menjadi bagian dari “budaya massa”. Kedua, dengan sedikit melepaskan diri dari bentuk orkestrasi ala swing akan memungkinkan para musisi jazz melakukan eksplorasi-eksplorasi baru dengan mengadaptasikan unsur dari musik-musik yang dianggap dapat memperkaya jazz. Tanpa bebop, mungkin tidak akan pernah ada jazz fusion, avant garde atau world music yang mengeksplorasi musik-musik etnis dari berbagai belahan dunia.

Pada masa-masa belakangan, semakin tampak bahwa musik jazz senantiasa kontradiktif dengan musik populer (rock dan pop), dimana jika seseorang menjadi penggemar salah satu jenis musik ini biasanya akan menolak yang lainnya. Yang kurang diketahui umum adalah bahwa kedua jenis musik tersebut memiliki hubungan satu sama lain yang saling mempengaruhi. Bukankah jazz maupun rock tumbuh dari akar yang sama, yakni blues ? Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa lagu-lagu The Beatles telah banyak dibawakan oleh para musisi jazz sebagai lagu standar. Atau bahwa Sting, pentolan grup New Wave era 80-an, The Police, adalah juga seorang musisi jazz yang handal. Akibat interaksi antara jazz dan musik-musik hiburan terbukti telah melahirkan berbagai sintesis baru yang memperkaya nuansa baik dalam jazz maupun rock. Bagi para musisi pop atau rock yang mengadopsi elemen jazz akan memberi mereka suatu nilai lebih karena dengan demikian akan dianggap lebih bermutu, sementara sebaliknya bagi kalangan musisi jazz, dengan mengadopsi unsur musik populer akan menyebabkan karya mereka lebih memiliki daya jual.

Munculnya berbagai bentuk sintesis antara jazz dan musik hiburan ini sering menjadi bahan perdebatan di kalangan kritikus musik, mengenai pengkategorian yang menjadi semakin kabur karenanya. Sejak sekitar tahun 1980-an, berbagai aliran baru ini diberi nama Adult Contemporary (AC), agaknya untuk menunjukkan bahwa musik ini ditujukan untuk kalangan usia tertentu yang dianggap telah “dewasa”, biasanya usia 30 tahun ke atas.. Musik-musik yang dapat dikategorikan sebagai AC ini meliputi :

  1. Fusion, yang lahir sekitar akhir dekade 1960-an, ketika Miles Davis, seorang eksponen bebop dan cool jazz mempopulerkan sebuah varian baru jazz dengan mengadopsi unsur rock dan soul / R&B. Kepeloporan Miles dilanjutkan oleh musisi-musisi generasi di bawahnya. Salah seorang yang paling sukses adalah Chick Corea dimana ia mempopulerkan penggunaan instrumen elektronis dalam jazz, sehingga fusion kemudian hampir tidak dapat dilepaskan dari ciri (elektronis) tersebut. Pada awalnya, fusion masih cukup sarat dengan improvisasi jazz, akan tetapi kemudian semakin mengarah pada pop dengan jenis komposisi yang disederhanakan untuk lebih menarik selera pasar. Jenis terakhir ini kemudian lebih populer dengan istilah smooth jazz atau terkadang disebut pula contemporary jazz.
  2. Jazzy”, yang berarti “agak-agak ngejazz” atau “sedikit bernuansa jazz”. Umumnya istilah ini dipergunakan untuk menyebut musik populer yang mengadopsi unsur jazz, umumnya pada progresi chord (yang mewakili unsur “blue note”) maupun irama (rhythm) yang sering dipergunakan dalam jazz misalnya swing, soul, bossanova dan sebagainya. Beberapa pengusung awal jazzy antara lain kelompok Blood, Sweat & Tears (BS&T) dan Chicago sekitar tahun 1968. Artis-artis jazzy memiliki latar belakang beraneka ragam. Ada sebagian artis/musisi yang memang memilih jazzy sebagai konsep musiknya, ada pula yang menjadi “jazzy” hanya karena kolaborasinya dengan musisi-musisi jazz. Dengan demikian, warna musiknya akan beraneka ragam. Salah satu varian yang paling populer belakangan ini adalah acid jazz, dimana aliran musik baru ini konon merupakan hasil “ulah” para DJ (disc jockey) dalam menciptakan suatu jenis musik dance dengan memasukkan unsur jazz, soul, hip hop, dan funk dalam satu komposisi/lagu. Acid jazz yang dibawakan oleh grup seperti Brand New Heavies dan Incognito, dengan beat-nya yang dinamis ini dengan segera memperoleh sambutan dari kalangan pendengar yang lebih muda.

Dari ilustrasi historis yang sangat singkat ini kiranya dapat diperoleh sebuah pengertian bahwa jazz tidak melulu merupakan jenis musik serius dan membosankan. Kiranya lebih tepat jika dikatakan bahwa jazz merupakan sebuah proses “tarik ulur” antara tradisi musik seni / klasik yang bersifat elitis dengan musik hiburan yang mewakili aspirasi khalayak lebih luas. Dari proses tarik ulur inilah kemudian muncul banyak sekali varian ataupun aliran dalam jazz yang makin memperkaya khazanah musik ini. Sesungguhnya, jazz menawarkan keanekaragaman dan eksplorasi-eksplorasi musikal yang sayang apabila diabaikan begitu saja, apalagi bagi generasi muda yang biasanya paling memiliki rasa ingin tahu.

dikutip dari : wartajazz.com

Read Full Post »